Memaknai Sa’i dalam Proses Menjadi Notaris

Diposting pada

Oleh: Yudi Setyo Prayogo, S.H., M.Kn.

Menjadi Notaris dan PPAT butuh effort yang lumayan besar. Ditandai dengan menjadi Anggota Luar Biasa, maka Anda kudu menyiapkan waktu 2 tahun untuk berproses menuntaskan setiap tahapan yang ditetapkan oleh Ikatan Notaris Indonesia dan Kementerian Hukum dan HAM. Pun kudu menyiapkan Tahapan yang ditetapkan oleh Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah dan Kementerian ATR/BPN. Lantas apa hubungannya dengan ibadah Sa’i?

Ketika menjalankan Ibadah Haji 2022 M, saya sempat merenungi Ibadah Sa’i yang saya jalankan. Sa’i merupakan napak tilas jejak ikhtiar Siti Hajar. Dikisahkan, setelah beberapa waktu ditinggal oleh Nabi Ibrahim, bekal kurma dan air habis. Sehingga tidak bisa menyusui Ismail. Kemudian Siti Hajar meletakkan Ismail dan berusaha mencari sumber air sampai bolak-balik tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah tidak juga ditemukan sumber air. Sampai kemudian Allah menunjukkan pertolongan tepat di bawah kedua kaki Ismail muncul sumber air yang melimpah. Sumber air itu yang kita kenal dengan telaga Zam-zam.

Betapa proses pencarian air ini ditempuh oleh seorang Ibu Hajar dengan totalitas sembari terus berdo’a memohon pertolongan Alloh. Semangat Siti Hajar patut dijadikan panutan bagi seorang calon notaris. Tahapan menjadi Notaris tak ubahnya wira-wirinya Siti Hajar dengan berjalan antara Shafa – Marwa tujuh kali. Calon Notaris pun kudu wara wiri hingga tujuh kali. Pertama, kudu menjadi Anggota Luar Biasa Notaris. Wira Wiri Kedua hingga Kelima, seorang calon notaris harus menjalani Magang Bersama Semester Pertama hingga Keempat. Putaran Keenam, seorang ALB kudu mengumpulkan poin seminar sekurang-kurangnya 18 poin. Ketujuh, diakhiri dengan Ujian Kode Etik Notaris dan PPKJN.

Ikhtiar Siti  Hajar tentu diwarnai ketidakpastian kala itu saat mencari air untuk Ismail. Saya pernah menyaksikan “Siti Hajar” kekinian  yang  menempuh proses menjadi notaris. Mereka calon notaris yang sudah ibu-ibu rela menggendong bayinya dan menyusui sejenak saat mengikuti Ujian Pra ALB, Seminar Kenotariatan, Magang Bersama, Bahkan Ujian Kode Etik. Bahkan mereka juga terpaksa meninggalkan anak balitanya demi mengikuti setiap tahapan menjadi notaris itu. Itu semua dilakukan demi mendapatkan sumber air yang bakal menghidupi keluarganya. Air Telaga itu adalah Jabatan Notaris dan PPAT.

Entah kapan “air telaga Notaris/PPAT” itu didapat?  Kita tidak tahu pasti di tengah gugatan proses pengangkatan Notaris dan ketidakpastian UPPAT. Semoga ikhtiar ala sa’i dan do’a Siti Hajar senantiasa patut kita tauladani. Semoga pertolongan Alloh SWT diberikan bagi hamba-Nya yang berada di jalan yang lurus dalam menjalani kehidupan ini.